Tentara Nasional Indonesia (TNI) memiliki mandat yang luas, tidak terbatas pada operasi militer untuk perang (OMP) yang bersifat pertahanan kedaulatan. Dalam Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, secara jelas diatur mengenai Tugas Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Tugas ini menempatkan TNI sebagai tulang punggung negara dalam situasi krisis sipil, terutama dalam penanggulangan bencana alam, pencarian dan penyelamatan (Search and Rescue/SAR), serta operasi bantuan kemanusiaan. Tugas Operasi Militer yang bersifat non-tempur ini menunjukkan komitmen TNI untuk membantu rakyat dan pemerintah daerah, memanfaatkan sumber daya logistik, personel terlatih, dan organisasi yang terstruktur rapi untuk respons yang cepat dan efektif.
Respon Cepat Bencana dan Evakuasi
Salah satu peran paling vital dalam Tugas Operasi Militer OMSP adalah penanggulangan bencana alam. Indonesia, yang berada di Ring of Fire, sangat rentan terhadap gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, dan banjir. Dalam situasi darurat, kecepatan adalah kunci. TNI mampu mengerahkan personel, kendaraan, dan alat berat dalam hitungan jam, jauh lebih cepat daripada banyak lembaga sipil lainnya. Misalnya, ketika gempa bumi dan tsunami melanda Palopo, Sulawesi Selatan pada tanggal 23 Mei 2026, dalam waktu kurang dari 12 jam, TNI Angkatan Udara (TNI AU) telah mengoperasikan pesawat angkut Hercules C-130 untuk membawa tim medis, makanan siap saji, dan peralatan evakuasi dari Lanud Halim Perdanakusuma ke lokasi bencana.
Fungsi utama dalam fase tanggap darurat meliputi:
- SAR dan Evakuasi: Prajurit TNI, khususnya dari unit-unit seperti Kopassus (TNI AD) dan Kopaska (TNI AL), memiliki kemampuan survival dan penyelamatan di medan ekstrem yang dibutuhkan untuk mencapai area yang terisolasi.
- Distribusi Logistik: Jaringan logistik TNI yang terorganisir menjadi jalur utama penyaluran bantuan. Tugas Operasi Militer ini sering melibatkan pembangunan jembatan darurat (bailey bridge) dan pembukaan akses jalan yang tertutup longsor.
Bantuan Kemanusiaan dan Pembangunan
Selain respons darurat, Tugas Operasi Militer OMSP juga mencakup kegiatan pembangunan dan bantuan kemanusiaan jangka panjang. Program seperti Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) adalah contoh nyata, di mana prajurit TNI bekerja bersama masyarakat sipil untuk membangun infrastruktur desa, termasuk jalan, jembatan, dan fasilitas umum lainnya, yang secara tidak langsung mendukung ketahanan nasional.
Dalam konteks bantuan kesehatan, TNI sering mengerahkan tim kesehatan dan kapal rumah sakit, seperti KRI Dr. Soeharso, untuk memberikan layanan medis gratis ke pulau-pulau terpencil dan daerah perbatasan. Kegiatan ini, yang tercatat dilakukan secara rutin setiap hari Kamis di perairan Nusa Tenggara Timur, berfungsi ganda: sebagai latihan kesiapan operasional kapal dan sebagai bentuk bakti sosial yang mempererat hubungan antara TNI dan rakyat.
Pengerahan TNI dalam Tugas Operasi Militer OMSP diatur dengan prinsip atas permintaan dan koordinasi dengan lembaga sipil terkait, seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Hal ini penting untuk memastikan TNI bekerja sebagai pendukung, bukan pengambil alih otoritas sipil, sesuai dengan semangat reformasi TNI yang menekankan profesionalisme dan kembalinya TNI ke barak.
