Sebagai penjaga kedaulatan maritim negara kepulauan terbesar di dunia, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) memiliki tuntutan pelatihan yang unik dan ekstrem, berfokus pada penguasaan medan perairan dan pesisir. Pelatihan ini secara fundamental dirancang untuk Menguji Daya Tahan fisik dan mental prajurit Marinir, Komando Pasukan Katak (Kopaska), dan Penyelam Tempur. Menguji Daya Tahan di lingkungan laut melibatkan tantangan unik seperti hipotermia, tekanan kedalaman, dan pertempuran senyap di bawah permukaan. Menguji Daya Tahan menjadi standar minimum yang harus dicapai, memastikan setiap prajurit mampu bertahan dan melaksanakan misi di lingkungan perairan paling keras. Berdasarkan jadwal rutin Komando Armada I TNI AL, drill renang survival dan selam tempur wajib dilaksanakan setiap hari Jumat pagi, pukul 06.00 WIB, dengan jarak tempuh minimal 3 kilometer di perairan terbuka.
1. Pelatihan Water Survival dan Sea Endurance
Elemen dasar dari pelatihan TNI AL adalah water survival (bertahan hidup di air). Prajurit harus mampu menghadapi laut lepas dengan perlengkapan minimal dan dalam kondisi cuaca buruk.
- Renang Jarak Jauh: Prajurit dilatih untuk berenang jarak jauh dengan full gear (perlengkapan tempur lengkap) untuk mensimulasikan kondisi setelah kapal tenggelam atau dalam operasi infiltrasi maritim.
- Drowning Proofing: Latihan ini, yang dikenal keras, mengajarkan prajurit untuk tetap tenang dan mempertahankan fungsi pernapasan meskipun tangan dan kaki mereka terikat. Tujuannya adalah menghilangkan rasa panik terhadap air dan membangun ketenangan mental yang absolut.
2. Keahlian Selam Tempur (Kopaska)
Bagi Kopaska, spesialisasi tempur di bawah laut, pelatihan selam jauh melampaui penyelaman rekreasi. Mereka dilatih untuk bekerja di bawah tekanan tinggi dengan jarak pandang nol.
- Selam Senyap: Mereka harus Menguasai Daya Tahan yang tinggi untuk berenang jarak jauh di bawah laut dengan alat selam sirkuit tertutup (closed-circuit rebreather). Alat ini tidak menghasilkan gelembung, memungkinkan prajurit untuk mendekati kapal musuh atau instalasi pesisir tanpa terdeteksi.
- Taktik Peledakan: Pelatihan mencakup cara memasang bahan peledak (limpet mine) pada lambung kapal secara diam-diam. Akurasi dan timing peledakan harus sempurna, yang mensimulasikan pada tanggal 17 Agustus, untuk melatih pengamanan perairan.
3. Aspek Amfibi (Marinir)
Marinir adalah tulang punggung operasi darat-laut. Pelatihan mereka berfokus pada transisi yang mulus dari perairan ke daratan.
- Pendaratan Amfibi: Latihan pendaratan amfibi mensimulasikan pendaratan pasukan di pantai yang dijaga musuh, menggunakan perahu karet dan kendaraan amfibi. Kecepatan dan koordinasi tim sangat penting di fase ini.
- Perang Pesisir: Marinir harus mampu bertempur di lingkungan pasir dan hutan pesisir dengan efektif, memanfaatkan penyamaran yang cepat beradaptasi dari air ke darat.
