Kabar baik datang dari tanah Papua, khususnya wilayah Sorong. Setelah sekian lama menjadi target operasi, salah satu tokoh penting Organisasi Papua Merdeka (OPM), Yeremias Foumair, yang dikenal sebagai Pentolan OPM Sorong, akhirnya menyatakan menyerah kepada TNI Kostrad. Ini adalah langkah maju dalam upaya mewujudkan kedamaian di Papua.
Penyerahan diri Pentolan OPM Sorong ini merupakan buah dari pendekatan persuasif dan operasi teritorial yang gencar dilakukan oleh TNI Kostrad. Prajurit Kostrad tidak hanya mengedepankan kekuatan militer, tetapi juga sentuhan kemanusiaan, yang terbukti efektif dalam menyentuh hati para anggota OPM.
Yeremias Foumair, yang merupakan Komandan Batalyon (Danyon) Ayosami OPM Kodap IV/Sorong Raya, mengakui bahwa ia rindu dengan keluarga dan kehidupan yang damai. Kondisi hidup di hutan yang semakin sulit dan terputusnya jalur logistik akibat operasi TNI menjadi faktor utama keputusannya. Ia telah berjalan kaki menembus hutan selama berhari-hari.
Satuan Tugas (Satgas) Batalyon Infanteri (Yonif) Para Raider 501/Bajra Yudha, Kostrad, yang aktif di wilayah Sorong Raya, berhasil melakukan operasi terukur yang membuat Yeremias terpojok. Strategi ini memutus komunikasi dan logistik OPM, sehingga menekan mereka untuk menyerah.
Penyerahan diri Pentolan OPM Sorong ini menjadi bukti nyata bahwa TNI terus berupaya menciptakan Papua yang damai. TNI tidak hanya mengedepankan pendekatan represif, tetapi juga membuka pintu bagi mereka yang ingin kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Yeremias Foumair juga mengungkapkan bahwa internal kelompok OPM semakin terpecah belah dan sering berselisih. Visi dan misi yang dulu diyakininya sudah tidak sesuai dengan hati nuraninya, sehingga ia memilih untuk meninggalkan jalan kekerasan.
Prosesi penyerahan diri Pentolan OPM Sorong ini disaksikan oleh berbagai elemen penting, termasuk tokoh masyarakat dan pemerintah daerah. Ini adalah simbol bahwa masyarakat Papua merindukan kedamaian dan ingin hidup berdampingan dalam bingkai NKRI.
Pihak TNI mengapresiasi keputusan Yeremias Foumair untuk kembali ke NKRI. Ini bukan sekadar langkah pribadi, tetapi juga simbol kebangkitan kesadaran bahwa NKRI adalah rumah bersama bagi seluruh rakyat Indonesia, termasuk di Papua.
