Pelatihan Drone Bawah Air Akmil Deteksi Ranjau Alur Sungai Barito

Sungai Barito di Kalimantan merupakan jalur nadi transportasi air yang sangat vital bagi ekonomi dan mobilitas masyarakat. Namun, dalam perspektif keamanan nasional, sungai yang lebar dan dalam ini juga memiliki potensi kerawanan yang perlu diwaspadai, terutama terkait dengan sabotase bawah air yang dapat melumpuhkan jalur logistik. Guna menghadapi ancaman tersebut, kurikulum pendidikan militer modern kini mulai memperkenalkan penggunaan teknologi robotika bawah air kepada para taruna. Kegiatan Pelatihan Drone Bawah Air ini difokuskan pada pengoperasian perangkat tanpa awak yang mampu bekerja di kedalaman sungai dengan visibilitas rendah untuk melakukan pemindaian menyeluruh.

Teknologi yang digunakan dalam kegiatan ini adalah Remotely Operated Vehicle (ROV) atau yang lebih dikenal sebagai drone bawah air. Berbeda dengan drone udara, perangkat ini harus mampu menahan tekanan air dan bekerja dalam kondisi arus sungai yang sering kali tidak terduga. Dilengkapi dengan sensor sonar canggih dan kamera resolusi tinggi, perangkat ini bertugas untuk memetakan dasar sungai dan mengidentifikasi benda-benda asing yang mencurigakan. Para taruna diajarkan cara mengendalikan unit ini dari daratan atau dari atas kapal patroli, memastikan bahwa setiap sudut alur sungai yang strategis tetap terpantau dengan akurasi yang tinggi.

Salah satu ancaman bawah air yang paling berbahaya adalah keberadaan alat peledak atau ranjau yang sengaja dipasang untuk merusak infrastruktur atau kapal yang melintas. Karena lokasinya yang tersembunyi di bawah permukaan air yang keruh, deteksi secara manual oleh penyelam manusia sangatlah berisiko dan memakan waktu lama. Dengan adanya drone, proses identifikasi dapat dilakukan dengan jauh lebih aman dan efisien. Jika ditemukan objek yang menyerupai bahan peledak, koordinat presisinya akan segera dikirimkan ke tim penjinak bahan peledak untuk ditindaklanjuti, sehingga risiko korban jiwa dapat diminimalisir sekecil mungkin.

Kawasan Sungai Barito dipilih sebagai lokasi latihan karena memiliki karakteristik arus dan sedimentasi yang kompleks. Lumpur yang tebal di dasar sungai menuntut sensor drone untuk bekerja lebih keras dalam membedakan antara sampah organik, bangkai kapal, atau benda-benda berbahaya lainnya. Keahlian dalam menganalisis data sonar merupakan keterampilan baru yang harus dikuasai oleh personel militer di era digital ini. Kemampuan ini tidak hanya berguna untuk pertahanan militer murni, tetapi juga dapat diterapkan dalam membantu tugas pemerintah daerah seperti pemeriksaan integritas pilar jembatan atau pencarian objek yang hilang di dasar sungai akibat kecelakaan air.