Korps Marinir Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut adalah unit tempur unik yang memiliki kemampuan beroperasi di tiga matra: laut, darat, dan udara. Kemampuan multifungsi ini menjadikan mereka memiliki peran krusial Marinir dalam menjaga keamanan dan kedaulatan negara. Misi-misi kompleks yang mereka jalankan seringkali membutuhkan koordinasi lintas matra yang presisi dan efisien.
Di matra laut, peran krusial Marinir adalah sebagai pasukan pendarat amfibi. Mereka adalah ujung tombak dalam operasi serangan dari laut ke darat, bertugas merebut dan mengamankan pantai serta membangun pijakan awal bagi pasukan lanjutan. Dilengkapi dengan berbagai kendaraan pendarat amfibi, seperti LVT (Landing Vehicle Tracked) dan kapal pendarat, Marinir mampu melakukan infiltrasi rahasia maupun serangan frontal yang masif. Latihan pendaratan amfibi sering dilakukan di perairan terbuka, mensimulasikan kondisi medan yang sebenarnya.
Di matra darat, setelah berhasil mendarat, prajurit Marinir bertransformasi menjadi infanteri mekanis yang tangguh. Mereka mampu melakukan operasi ofensif maupun defensif, pengamanan objek vital, hingga operasi kontra-insurgensi di wilayah daratan. Pelatihan darat mereka meliputi pertempuran jarak dekat (CQB), taktik gerilya, navigasi darat yang akurat, serta kemampuan survival di berbagai medan. Pada latihan tempur darat di Pusat Latihan Tempur Marinir pada hari Selasa, 13 Mei 2025, misalnya, satu kompi Marinir berlatih skenario pembebasan kota yang diserang, menunjukkan kemampuan tempur perkotaan mereka.
Sedangkan di matra udara, meskipun bukan penerbang, Marinir memiliki kemampuan untuk melakukan operasi airborne atau diterjunkan dari udara. Mereka dilatih untuk terjun payung, baik secara statis maupun free fall, guna melakukan penyusupan cepat ke wilayah musuh atau sebagai bagian dari operasi rapid deployment. Kemampuan ini melengkapi peran krusial Marinir dalam menjangkau area-area sulit atau terisolasi. Latihan terjun payung seringkali dilakukan di pangkalan udara tertentu pada pagi hari, memastikan kondisi angin yang mendukung.
Selain itu, peran krusial Marinir juga merambah misi non-tempur seperti penanggulangan bencana alam. Dengan mobilitas tinggi di wilayah pesisir dan kepulauan, mereka sering menjadi yang pertama tiba untuk membantu evakuasi dan menyalurkan bantuan logistik. Contohnya, saat terjadi gempa bumi di Sulawesi pada akhir April 2025, satu tim Marinir dikerahkan pada Jumat, 25 April 2025, untuk membuka akses jalan dan mendistribusikan bantuan. Fleksibilitas dan kemampuan operasi di tiga matra ini menjadikan Korps Marinir sebagai aset yang tak ternilai bagi pertahanan Indonesia.
