Salah satu langkah konkret yang diambil adalah dengan melakukan reformasi pada sistem evaluasi karakter. Pihak akademi kini memutuskan untuk perketat seleksi mental terhadap seluruh taruna dan calon taruna. Proses ini tidak hanya dilakukan di awal pendaftaran, tetapi menjadi bagian integral yang dilakukan secara berkala selama masa pendidikan. Evaluasi ini mencakup tes psikologi mendalam, pengamatan perilaku harian, hingga penilaian sejawat yang bertujuan untuk mendeteksi dini adanya bibit-bibit penyimpangan karakter. Hal ini sangat penting karena tantangan sosial di luar akademi semakin kompleks, mulai dari pengaruh negatif media sosial hingga godaan gaya hidup yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kemiliteran.
Tujuan utama dari kebijakan ini adalah untuk secara efektif cegah pelanggaran hukum maupun disiplin di masa depan. Sejarah mencatat bahwa sebagian besar kasus pelanggaran yang melibatkan oknum aparat sering kali berakar dari lemahnya pengendalian diri dan kurangnya integritas mental sejak masa pendidikan. Dengan memperketat pengawasan dan seleksi mental di Akmil Kalsel, diharapkan potensi-potensi perilaku negatif seperti arogansi, penyalahgunaan wewenang, hingga tindakan asusila dapat diminimalisir sedini mungkin. Pendidikan militer bukan hanya tempat untuk melatih otot dan keahlian menembak, tetapi juga kawah candradimuka untuk membentuk moralitas yang luhur.
Dalam proses untuk menjaga marwah ini, para instruktur dan pembina di Kalimantan Selatan juga menerapkan metode kepemimpinan yang lebih humanis namun tetap disiplin. Taruna diajarkan untuk memahami bahwa kekuatan sejati seorang pemimpin terletak pada teladannya, bukan pada kekuasaan yang ia miliki. Program pembinaan mentalitas ini melibatkan berbagai pakar psikologi militer dan tokoh masyarakat untuk memberikan wawasan tentang etika dan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, taruna tidak hanya melihat diri mereka sebagai mesin perang, tetapi sebagai bagian dari solusi bangsa yang harus menjaga nama baik keluarga, instansi, dan negara.
Dampak dari kebijakan perketat seleksi mental ini mulai terlihat pada menurunnya angka tindakan disiplin di lingkungan akademi. Taruna menjadi lebih sadar akan konsekuensi dari setiap tindakan yang mereka ambil. Mereka memahami bahwa menjadi bagian dari Akmil Kalsel adalah sebuah kehormatan yang bisa dicabut kapan saja jika mereka gagal menjaga standar moral yang telah ditetapkan. Kedisiplinan yang lahir dari kesadaran internal jauh lebih kuat dan abadi dibandingkan kedisiplinan yang dipaksakan melalui rasa takut akan hukuman fisik semata. Inilah inti dari pembangunan karakter yang sedang dikejar oleh akademi.
