Bencana alam merupakan salah satu ancaman non-tradisional yang memerlukan kesiapsiagaan militer tingkat tinggi. Kalimantan Selatan, dengan karakteristik daerah aliran sungai yang luas dan curah hujan yang sering kali ekstrem, memiliki risiko tinggi terhadap bencana hidrometeorologi. Menanggapi potensi ini, pembentukan satuan komando penyelamatan melalui serangkaian latihan intensif menjadi prioritas bagi institusi militer di daerah tersebut. Para taruna dipersiapkan untuk menjadi garda terdepan dalam membantu masyarakat saat bencana besar melanda, menggabungkan disiplin militer dengan keahlian penyelamatan sipil.
Latihan simulasi yang digelar biasanya mengambil skenario terburuk, di mana debit air sungai meningkat drastis secara tiba-tiba dan memutus akses transportasi darat di pemukiman warga. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan kepemimpinan para calon perwira diuji untuk mengorganisir massa yang panik serta mengarahkan personel di bawahnya secara efektif. Langkah pertama dalam evakuasi banjir adalah menentukan titik kumpul aman dan memastikan seluruh kelompok rentan, seperti lansia dan anak-anak, mendapatkan prioritas utama untuk segera dipindahkan dari zona bahaya.
Penggunaan peralatan air seperti perahu karet, mesin tempel, hingga teknik penyelamatan air manual (water rescue) menjadi menu wajib dalam pelatihan di Kalsel. Para taruna diajarkan bagaimana membaca arus air yang terlihat tenang namun memiliki daya dorong yang kuat di bagian bawah. Mereka juga dilatih untuk melakukan manuver perahu di area pemukiman yang sempit dan penuh dengan hambatan seperti kabel listrik atau puing-puing bangunan yang terendam. Ketepatan dalam mengemudikan sarana air sangat krusial agar misi penyelamatan tidak justru menambah jumlah korban akibat kecelakaan operasional.
Selain aspek fisik dan teknis, koordinasi antarinstansi juga menjadi fokus utama dalam simulasi komando ini. Militer tidak bekerja sendirian; mereka harus mampu bersinergi dengan badan penanggulangan bencana daerah, tim pencarian dan pertolongan, hingga relawan masyarakat. Kemampuan komunikasi radio dan pemetaan wilayah terdampak secara real-time sangat diperlukan agar distribusi bantuan logistik dan personel dapat dilakukan secara merata. Taruna diajarkan untuk menyusun posko darurat yang fungsional, mencakup pusat informasi, dapur umum, hingga fasilitas kesehatan sementara yang mampu beroperasi secara mandiri dalam kondisi tanpa listrik.
