Peran seorang penembak jitu atau sniper dalam operasi militer modern, terutama di lingkungan perkotaan (urban warfare), adalah salah satu yang paling kritis dan berisiko tinggi. Keberhasilan misi seringkali bergantung pada kemampuan satu tembakan yang dilepaskan dengan akurasi mutlak. Oleh karena itu, Pelatihan Presisi bagi sniper TNI dirancang untuk menciptakan disiplin mental dan fisik yang luar biasa, mengubah prajurit biasa menjadi operator yang mampu bekerja di bawah tekanan ekstrem. Pelatihan Presisi ini mencakup penguasaan teknik menembak, seni kamuflase, dan kemampuan mengambil keputusan etis dalam hitungan detik.
Dalam lingkungan urban, Pelatihan Presisi harus menghadapi tantangan baru, seperti tembakan yang harus melewati kaca, perhitungan angin yang berputar di antara gedung-gedung tinggi, dan penentuan jarak di antara reruntuhan. Komandan Sekolah Penembak Jitu TNI AD, Letkol Inf. Sigit Pramono, menjelaskan bahwa sniper tidak hanya dilatih untuk menembak, tetapi juga untuk menyerap informasi lingkungan secara holistik. Dalam Sniper Course yang diadakan selama 10 minggu di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur), prajurit harus menyelesaikan Minimal 1500 tembakan dari berbagai posisi, jarak, dan kondisi cahaya, termasuk simulasi di tengah malam.
Aspek krusial dari Pelatihan Presisi adalah seni stalking (mengintai) dan kamuflase. Di kota, sniper harus dapat bersembunyi dalam keramaian atau di antara puing-puing tanpa terdeteksi, bahkan dalam jarak dekat. Prajurit dilatih untuk tetap berada di satu posisi tanpa bergerak selama Minimal 8 jam untuk mengamati target, dengan detak jantung yang harus dijaga di bawah 60 denyut per menit agar pernapasan tetap stabil saat menarik pelatuk. Tim Medis Militer, yang dipimpin oleh Dokter Mayor Ckm. Siska Amelia, Sp.KJ. pada tanggal 5 Desember 2025, rutin mengevaluasi kondisi psikologis sniper untuk memastikan mereka mampu mempertahankan fokus mental yang intens dalam waktu yang lama.
Sniper TNI dilatih untuk selalu mengutamakan tembakan one shot, one kill ke high-value target demi menghindari collateral damage (kerugian pihak sipil). Mereka menggunakan senapan kaliber besar dengan sub-MOA accuracy (akurasi kurang dari 1 inci pada jarak 100 yard). Protokol Operasi Standar (POS) yang dirilis pada awal tahun 2024 mewajibkan sniper untuk mendapatkan konfirmasi visual dan perintah dari komando lapangan (biasanya perwira Mayor) sebelum melepaskan tembakan di lingkungan padat penduduk. Disiplin ini memastikan bahwa Pelatihan Presisi tidak hanya menghasilkan akurasi teknis, tetapi juga etika militer yang tidak diragukan.
