Bakti Taruna: Pesantren Kilat Lansia di Akmil Kalsel Viral!

Dunia digital baru-baru ini dihebohkan oleh aksi inspiratif yang datang dari Bumi Lambung Mangkurat. Sebuah program bertajuk Bakti Taruna yang dilaksanakan di wilayah Kalimantan Selatan mendadak menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Program ini bukan tentang latihan tempur atau demonstrasi ketangkasan, melainkan sebuah aksi kemanusiaan yang menyentuh hati: penyelenggaraan kegiatan edukasi religi untuk warga usia senja. Inisiatif ini menunjukkan sisi humanis dari para calon perwira yang mampu turun langsung ke tengah masyarakat dengan penuh kasih sayang dan penghormatan kepada orang tua.

Konsep yang diusung adalah Pesantren Kilat khusus untuk para Lansia yang tinggal di sekitar lingkungan pendidikan militer. Selama beberapa hari, para kakek dan nenek diajak untuk beribadah bersama, mendengarkan tausiyah singkat, serta mengikuti berbagai aktivitas yang menyegarkan ingatan keagamaan mereka. Para taruna bertindak sebagai pendamping sekaligus pelayan bagi para peserta lansia ini. Mereka membantu menuntun saat berjalan, menyediakan konsumsi, hingga menjadi pendengar yang baik bagi cerita-cerita masa lalu para lansia. Interaksi dua generasi yang terpaut jauh ini menciptakan suasana yang sangat haru dan penuh kehangatan.

Kehadiran kegiatan ini di Akmil Kalsel memberikan pesan kuat bahwa tugas seorang prajurit tidak hanya menjaga kedaulatan negara secara fisik, tetapi juga menjaga nilai-nilai kesantunan dan pengabdian kepada masyarakat. Kalimantan Selatan yang kental dengan budaya agamis menyambut sangat baik program ini. Masyarakat merasa bangga melihat para pemuda yang gagah berani ternyata memiliki kelembutan hati untuk memuliakan orang tua. Hal inilah yang kemudian memicu berita tersebut menjadi Viral dan mendapatkan apresiasi dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh masyarakat hingga pejabat tinggi negara.

Program ini juga menjadi sarana bagi para taruna untuk melatih kesabaran dan empati. Menghadapi lansia tentu memerlukan pendekatan yang berbeda dibandingkan menghadapi rekan sejawat. Mereka belajar bagaimana berkomunikasi dengan lembut, memberikan perhatian tulus, dan memahami keterbatasan fisik orang lain. Pengalaman lapangan seperti ini sangat berharga bagi pembentukan karakter mereka sebagai pemimpin masa depan. Mereka diingatkan bahwa kekuatan yang mereka miliki saat ini adalah titipan yang seharusnya digunakan untuk melindungi dan melayani mereka yang lemah, termasuk para warga senior di wilayah Kalsel.