Masalah banjir seringkali menjadi kendala utama bagi operasional fasilitas publik di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk di Kalimantan Selatan yang memiliki karakteristik lahan basah. Namun, sebuah terobosan signifikan telah berhasil dilakukan sehingga kawasan Akmil Kalsel di sana kini dinyatakan bebas banjir. Keberhasilan ini bukanlah hasil kerja satu malam, melainkan buah dari perencanaan matang dan komitmen jangka panjang dalam menjaga keseimbangan ekosistem di sekitar area ksatrian dan asrama.
Kunci utama dari pencapaian ini adalah penerapan konsep sinergi hijau yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Militer tidak lagi hanya fokus pada pembangunan tanggul fisik, tetapi juga mulai melakukan pendekatan berbasis alam. Penanaman ribuan pohon peneduh dan tanaman penyerap air di titik-titik rawan genangan menjadi langkah awal yang sangat efektif. Selain berfungsi sebagai daerah resapan, vegetasi hijau ini juga memberikan suasana sejuk yang mendukung kenyamanan para taruna dalam menjalankan rutinitas latihan fisik yang berat setiap harinya.
Kerja sama yang erat dengan DLH (Dinas Lingkungan Hidup) setempat menjadi faktor penentu keberhasilan proyek ini. Pihak dinas memberikan bantuan teknis berupa pemetaan drainase kota yang terintegrasi dengan saluran pembuangan di dalam komplek militer. Selain itu, edukasi mengenai pengelolaan sampah juga dijalankan secara intensif. Dengan memastikan tidak ada sumbatan sampah pada saluran air, risiko air meluap ke area pemukiman dan perkantoran militer dapat diminimalisir secara drastis, bahkan saat curah hujan mencapai puncaknya di wilayah tersebut.
Infrastruktur di Akmil Kalimantan Selatan kini dilengkapi dengan kolam-kolam retensi atau embung buatan yang berfungsi sebagai penampung air hujan sementara. Air yang tertampung ini tidak dibuang begitu saja, melainkan difilter untuk digunakan kembali sebagai penyiram tanaman atau pembersihan kendaraan operasional. Ini adalah bentuk nyata dari pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan. Transformasi ini menjadikan komplek militer tersebut sebagai contoh bagi instansi lain dalam hal adaptasi terhadap perubahan iklim dan mitigasi bencana hidrometeorologi.
Peran aktif personel militer dalam menjaga kebersihan lingkungan juga patut diacungi jempol. Budaya disiplin yang tinggi diterapkan dalam menjaga kebersihan selokan dan kanal-kanal air di sekitar lingkungan mereka. Setiap unit kerja bertanggung jawab atas zona hijaunya masing-masing, menciptakan kompetisi positif dalam pelestarian alam. Sinergi ini membuktikan bahwa kekuatan pertahanan negara juga mencakup pertahanan terhadap ancaman bencana alam yang bisa mengganggu stabilitas keamanan wilayah.
